Terungkapnya Tahu Isi Pil Koplo Yang Masuk Lapas Blitar


Ims2003.org – Saat ini pihak kepolisian telah berhasil mengungkap terkait dengan pemilik pil koplo yang ada di dalam tahu goreng yang berhasil diselundupkan ke dalam Lapas Blitar. Terungkapnya pelaku penyelundupan berawal dari sebuah kartu identitas yang dibawa Eka Permadi saat membesuk tahanan narkoba berinisal DW, Jumat (20/10). Eka Permadi yang saat itu membesuk bersama istri DW, Editia Anisa Rosanti (22), justru membawa KTP atas nama Resa Chairul Anwar (24), warga Jalan Borobudur, Bendogerit, Sananwetan Kota Blitar.

“Saat kami periksa, Eka membawa KTP Resa, karena yang menyuruh mengantar tahu goreng itu memang Resa. Resa ini tinggal serumah dengan DW, karena dia kakak kandung DW,” jelas Kasatnarkoba Polresta Blitar, AKP Huwahila Wahyu Yuha ditemui di Mapolresta Blitar, Selasa (24/10/2017). Sedangkan Editia, istri DW, beber Huwahila, mengaku tidak tahu jika makanan (tahu) titipan kakak iparnya itu berisi pil koplo.

“Mau berangkat besuk itu tiba-tiba dititipi makanan sama Resa. Edit besuk suaminya tiap hari. Kadang diantar Resa juga, tapi baru kali ini Resa titip makanan buat adiknya,” jelasnya.

Berwal dari temuan tersebut, akhirnya jaringan pengedar pil koplo yang sudah lama dicari di Kota Blitar terungkap juga. Polisi langsung melakukan penggeledahan di rumah Resa. Namun di kamar Resa, polisi tak menemukan satupun pil koplo yang tersisa.

“Tapi saat diperiksa, Resa mengaku memang dia yang menyuruh Edit dan Eka mengantar tahu goreng yang sudah diisi pil koplo, karena adiknya memesan saat dia besuk di Lapas. Dia ngaku membeli 49 butir seharga Rp 70 ribu. Yang 20 dimasukkan tahu goreng, yang 10 diminum sendiri, sisanya dikasihkan temannya dari Kediri,” ungkap Huwahila.

Melalui proses pengembangan, polisi berhasil mengungkap dari siapa Resa mendapat barang haram itu. Ternyata bandar pil koplo itu rumahnya tak jauh dari rumah Resa.

“Bandarnya ini masih tetangga dekat, warga Jalan Borobudur juga. Namanya Yeyen berusia sekitar 40 tahun. Di rumahnya kami amankan sebanyak 933 butir pil doubel L yang siap diedarkan,” paparnya.

Dari pengakuan Yeyen, lanjutnya, dia mendapat kiriman pil koplo dari bandar di Kediri. Namun polisi mengaku kesulitan melacak, karena jaringan ini memakai sistem ranjau dalam pengiriman barang.

“Dapatnya dari Kediri pakai sistem ranjau ini memang agak sulit melacaknya, namun kami berusaha menelusuri. Karena dalam sebulan, rata-rata dia bisa belanja sampai 1.000 butir, berarti pemesanan sangat banyak disini. Harganya Rp 600 ribuan,” jelas Huwahila.